Slideshow 1 Slideshow 2 Slideshow 3 Slideshow 4

Artikel

PEMBIRUAN UNTUK MASA DEPAN

Artikel Lengkap 

 

Selama ini kita banyak berbicara mengenai penghijauan sebagai salah satu langkah dalam penanggulangan pemanasan global. Tentu ini bukan lagi istilah asing di telinga kita. Penghijauan diartikan sebagai kegiatan penyelamatan lingkungan dengan memanfaatkan potensi “back to nature” semisal menanam pepohonan, atau melakukan gerakan 3R (Reduce, Reuse, Recycle).


Penghijauan mulai digalakan setelah masyarakat tersadar akan pentingnya menjaga Bumi dan menanggulangi dampak pemanasan global yang sudah tak dapat ditampik lagi. Meski belum seluruhnya tergerak, namun bisa dikatakan bahwa saat ini masyarakat sudah memahami pentingnya melakukan aksi-aksi penghijauan.


Namun apakah itu sudah cukup? Melihat kondisi geografis Indonesia yang terdiri atas 17.000 lebih pulau serta dikelilingi oleh laut dan samudera, penghijauan belumlah mampu mencakup seluruh kebutuhan negara kita akan penanggulangan dampak pemanasan global.

Lantas, selain berkonsentrasi di daratan ternyata kita juga harus mulai peduli akan pelestarian lingkungan yang “lain”. Mudahnya, kita hanya perlu sadar bahwa kita tinggal di tanah kepulauan, yang berarti presentase wilayah perairan lebih besar dibandingkan presentase wilayah daratan. Dan apabila kita hanya bergerak dalam penghijauan (yang notabene-nya dilakukan di daratan), dan lagipula penghijauan itu sendiri belumlah maksimal, nampaknya kita kurang berlaku adil terhadap tanah air kita sendiri.
Jika di darat kita melakukan penghijauan, maka di perairan lakukanlah pembiruan. Ini adalah gerakan pelestarian laut yang pada dasarnya juga bertujuan untuk menanggulangi dampak pemanasan global. Kembali mengingat bahwa perairan memiliki cakupan yang lebih luas dibanding daratan, maka pembiruan yang dilaksanakan dengan sungguh-sungguh akan mampu membawa Indonesia lepas dari ancaman pemanasan global.


Seperti yang kita tahu, di dalam laut terdapat ekosistem terumbu karang. Makhluk-makhluk laut menjadikan terumbu karang sebagai rumah serta tempat mencari makan. Namun hal ini diganggu oleh aktivitas manusia yang menggunakan metode beresiko untuk menangkap ikan, seperti bom dan pukat harimau. Cara-cara tersebut akan merusak terumbu karang serta mengganggu ekosistem secara keseluruhan. Dalam kebersinambungann, ketidaknormalan ini jugalah yang kemudian menyebabkan lingkungan rentan terhadap bencana dan dampak pemanasan global semakin mudah dirasakan.
Belakangan ini kita menyadari adanya pergeseran musim penghujan menjadi lebih panjang. Inilah salah satu dampak pemanasan  global, yang jika ditelurusi lagi ternyata bermula dari gejala-gejala anomali yang terjadi di permukaan laut! Itulah sebabnya mengapa kita harus sudah mulai sadar akan pembiruan.


Dan ternyata bukanlah hal sulit untuk menerapkan gerakan pembiruan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan justru hal mampu berjalan beriringan dengan penghijauan sendiri. Kita bisa memulai dengan tidak membuang sampah pada saluran air. Semua pasti tahu bahwa muara segala parit adala laut. Dan jika kita mengotori laut, apa yang akan terjadi pada terumbu karang? Mereka sangat rentan dan menjadi tautan bagi banyak makhuk hidup. Tentu kita tidak mau disebut sebagai “penjahat lingkungan” bukan?
Lebih dari itu, cobalah mengelola penggunaan air bersih seefisien mungkin. Mengingat bagaimana daya yang digunakan untuk mengolah air tentu akan berdampak pada lingkungan pula, dan masih banyak teman kita di penjuru Nusantara yang kekurangan air, tidakkah kita rela bertenggang rasa sedikit saja dengan mulai menghemat air yang kita pakai?


Dan kemudian—yang paling penting—mulailah kenali potensi laut kita. Ternyata masih banyak lokasi perairan yang memiliki ekosistem terumbu karang berkualitas baik. Tentu ekosistem ini sangatlah indah dan kita patut bersyukur karena tidak semua negara dianugerahi hamparan surga bawah laut seperti ini. Lebih dari bersyukur, kita juga harus menjaganya sesuai dengan kapasitas kita masing-masing.
Kawasan-kawasan seperti Bunaken, Raja Ampat, Pulau Komodo, Wakatobi, memiliki kekayaan terumbu karang yang indah... dan hanya jika kita sudah mengenalnya lah, kita akan mampu mencintai dunia bawah lautnya dan mulai bergerak ke arah pembiruan.

Hijau pulauku,
Biru lautku,
Selamat Indonesia-ku.

By Rahmat Sah Saragih
 

video | Semua Artikel

<< First | < Previous |Next > | Last >>

Online Test

ROBOTIC DAY 2017

Pengumuman Kelulusan

Ekstrakurikuler

Social Networking

  

  STATISTIK PENGUNJUNG
Pengunjung hari ini : 115
Total pengunjung : 278717
Hits hari ini : 307
Total Hits : 1959728
Pengunjung Online : 2

1959728